Trump dan Keputusan Paris: Banalitas Sebagai Sebuah Brand

“Make America Great Again.” 4 kata yang cukup membuat Trump berhasil menjadi Presiden AS ke-45. Keputusan kontroversial yang selalu dibuat Trump, yang terbaru adalah menolak menandatangani perjanjian climate change di Paris, apakah membuat warga Amerika tidak percaya dengan Trump? Apa hubungan perjanjian tersebut dengan brand yang berusaha diterapkan oleh Trump?


Trump merupakan seorang jenius. Ia sukses menjadi Presiden AS ke-45 dan menggunakan “Make America Great Again” sebagai sebuah brand. Slogan yang sebenarnya pernah digunakan oleh Reagan pada tahun 1980 namun memiliki perbedaan besar; Reagan tidak menjadikan slogan tersebut sebagai brand.

Trump pun berhasil membawa slogan tersebut ke tahap tertinggi dalam sebuah brand, dimulai dari tahap brand awareness, brand recognition, dan terakhir adalah brand recall.

Apa yang membuat brand Trump begitu kuat? Bagaimana dia mengaplikasikannya dalam semua keputusan yang ditunjukan?

Saya akan menganalisis menggunakan tiga tahap dalam branding, yaitu brand awareness, brand recognition, dan brand recall.

1. Brand Awareness

Penggunaan “Make America Great Again” pertama kali diperkenalkan oleh Trump saat pemilihan presiden melawan Hillary Clinton.

“Because to me, it meant jobs. It meant industry, and meant military strength. It meant taking care of our veterans. It meant so much.” Trump dalam Washington Post.

Trump dengan pintar menggunakan slogan tersebut sebagai sesuatu yang mudah dipahami oleh audiens. Pesannya simpel dan visinya jelas, membuat Amerika lebih baik. Membuat Amerika V2.0, karena penggunaan kata tersebut secara psikologis akan mengikat emosi orang-orang untuk percaya akan lebih baik. Sama halnya dengan Marketing V2.0, V3.0, ataupun V4.0 yang dibuat oleh Hermawan Kertajaya, semua hanya permainan psikologi. Padahal, pesan yang ingin disampaikan hampir sama.

Lalu, bagaimana Trump mengaplikasikannya?

Selain mengikat, kampanye yang paling kuat adalah penggunaan topi sebagai alat kampanye yang diklaim Trump laku hingga milyaran. Bahkan, Trump memiliki website yang khusus menjual topi tersebut di sini.

trump

Trump berjualan dan menjadikan slogan sebagai brand

What you’re looking for in any slogan, whether it’s for a company or a business, is to be able to in a clear and concise way sum up what you’re all about. So Trump clearly had an objective of a message that he would make America great again. Eoghan McDermott dalam Vox.

Tujuan yang jelas tersebut membuat Make America Great Again sangat identik dengan Trump dan berhasil membawanya kepada tahap selanjutnya.

2. Brand Recognition

Brand Recognition adalah tahap ketika orang-orang dihadapkan dengan sebuah brand, hanya ada satu pilihan dan pilihan tersebut merupakan hasil dari brand recognition.

Ketika pemilihan, mana yang lebih kuat? Make America Great Again milik Trump atau Stronger Together milik Hillary?

Make America Great Again lah pemenangnya. Karena Trump berhasil membawa visi dan menyatukannya dengan value yang ditawarkan, yaitu militer, industri, dan pekerjaan. Berbeda dengan Hillary yang tidak memiliki visi yang jelas. Amerika akan menjadi lebih kuat untuk menghadapi apa? Hillary hanya menjadikan Amerika lebih kuat, bukanlah yang terbaik.

Itulah yang membuat brand Trump berhasil memenangkan pemilihan menjadi Presiden AS ke-45.

3. Brand Recall

Brand recall adalah bagaimana sebuah brand menjadi sebuah ingatan ketika pertama kali menyebut kategori tersebut.

Siapa yang memiliki tweet kontroversial? Trump.

Siapa yang memiliki kebijakan yang berdampak negatif ke warga luar Amerika? Trump.

Trump selalu mengeluarkan keputusan berulang, yang aneh, yang bisa membuat dunia bertanya-tanya dan meragukan keputusannya menjadi Presiden AS.

Keputusan paling baru adalah keputusan Trump untuk tidak menyetujui perjanjian di Paris mengenai iklim yang tercatat di sini. Trump beralasan bahwa perjanjian tersebut, yang didasari oleh pemanasan global, hanya mengada-ngada yang dibuat oleh China untuk mengalahkan ekonomi Amerika.

trump

Konsep global warming menurut Trump.

“The fact that the Paris deal hamstrings the United States while empowering some of the world’s top-polluting countries should dispel any doubt as to the real reason why foreign lobbyists wish to keep our magnificent country tied up and bound down by this agreement. It’s to give their country an economic edge over the United States. That’s not going to happen while I’m president.”

Keputusan tersebut pun dikecam oleh berbagai kalangan. Bagaimana bisa AS menjadi satu-satunya Negara yang tidak setuju dibanding ratusan Negara lainnya?

Apakah hal tersebut membuat rakyat Amerika tidak percaya dengan Trump? Belum tentu. Trump menunjukan sebuah alasan realistis kenapa Ia lebih memilih untuk tidak setuju dengan hal tersebut karena itu hanya akan membuat Amerika harus berbenah dari segi ekonomi, yang mana Amerika sudah menggunakan energi fosil selama 40 tahun belakangan.

Apakah tweet-tweet aneh Trump tidak disenangi oleh warga AS? Belum tentu. Jurnalis bisa dengan mudah menemukan suatu hal yang bisa jadi berita, dan pasti laku, melalui tweet Trump. Bahkan, beberapa media menyediakan orang-orang yang selalu stand by untuk memperhatikan tweet Trump yang kebanyakan kontroversial.

Apakah keputusan tersebut membuat warga AS murka? Belum tentu. Karena alasan terkuat lain, menurut Trump, lebih baik Amerika mengalihkan hal tersebut untuk membuat dunia memiliki air bersih, mengurangi penyakit seperti malaria, meningkatkan produksi pangan yang berhasil membuat warga Amerika setuju. Semua tentang Amerika. Make America Great Again.

Perubahan keputusan terhadap pemanasan global dan perjanjian di Paris tersebut tentu akan melanggar branding yang berusaha diterapkan Trump, Make America Great Again.

Karena tahap terpenting untuk menuju brand recall adalah, konsistensi.

Konsistensi tersebut pun selalu ditunjukan Trump dengan menganggap bahwa Amerika selalu terbaik. Trump secara konsisten selalu merendahkan Negara lain, bahkan menarik Negara lain untuk setuju dengan Trump melawan Korea Utara. Selain untuk menunjukan kepada Korea Utara, tujuan utama Trump adalah menunjukan kepada dunia bahwa militer AS adalah yang terbaik. Make America Great Again.

Trump yang ikut menyerang Mexico.

Emosi Trump terhadap Korea Utara yang paling kontroversial adalah menganggap Kim Jong Un sebagai cebol yang tidak tahu apa-apa. Make America Great Again.

Bahkan, sebelum menjadi Presiden AS, Trump sudah konsisten dengan ketidakpercayaannya terhadap pemanasan global yang dibuat dalam tweet yang dikeluarkan sejak beberapa tahun lalu. Brand consistency.

Cuitan Trump mengenai global warming sejak beberapa tahun lalu.

 


Banyak yang menganggap Trump egois. Tapi apakah Make America Great Again yang terkenal itu menunjukan Negara lain akan ikut lebih kuat? Tidak.

Trump hanya spesifik menunjukan bahwa Amerika lebih kuat, dari yang lainnya, melalui berbagai strategi yang dilalui dengan brand-nya, dengan kunci yang terbaik untuk mencapai tahap brand recall adalah brand consistency.

Kontroversial yang selalu diterapkan oleh Trump pun pada akhirnya akan menjadi banal, sebagai suatu hal yang lumrah, sebagai sebuah kebiasaan, yang pada akhirnya akan membuat warga Amerika percaya dengan Trump dan slogannya, Make America Great Again.

Article by fauziananta1

Masih dalam proses belajar digital marketing dan strategi branding.

This Article Has 1 Comment
  1. Audia says:

    ooh jadi ini yang bikin trump jadi aktor yang bertanggung jawab sama perubahan iklim.
    tapi branding-nya leh ugha sih wkwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *