strategi Kim Jong Un

Strategi Kim Jong Un Melawan AS dari Perspektif Branding

Pertemuan Kim dan Trump di Singapura kemarin menjadi sejarah. Hal itu pun menguntungkan kedua belah pihak. Bagaimana strategi Kim Jong Un hingga berhasil membuat ketakutan sebagai brand recall dan membuat AS bertekuk lutut? Saya mencoba mengulik strategi-nya dari perspektif branding.


Kim Jong Un menjabat sebagai pemimpin Korea Utara sejak tahun 2012. Menggantikan Ayahnya, Kim Jong Il, yang wafat. Kim Jong Un pun memiliki visi yang lain, menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai fokus-nya.

“I would not let my people tighten their belt again.” – Kim Jong Un

Pernyataan yang dikeluarkan saat pidato pertamanya pun semakin menguatkan bahwa Kim Jong Un ingin membenahi perekonomian negara. Belajar dari pendahulunya yang menolak pemberian insentif pada tahun 1990. Berimplikasi kepada jutaan orang yang mati karena kelaparan.

Hasilnya sejauh ini? pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016 meningkat sebesar 4% semenjak Kim Jong Un mengambil alih. Itu menjadi pertumbuhan ekonomi terbesar dalam 16 tahun.

Langkah Kim Jong Un untuk memperbaiki ekonomi pun tidak mudah. Ia harus mendapatkan pengakuan dari negara lain dahulu, terutama Korea Selatan dan AS, tanpa menjatuhkan wibawa-nya sebagai pemimpin diktator.

Sehingga, cara yang dilakukan bukanlah langsung membuka diri, menjatuhkan martabat dan meminta perdamaian. Melainkan, menggunakan nuklir yang telah menjadi brand recognition dari Korea Utara sejak 1960.

Cara Kim Jong Un menjadikan nuklir = Korea Utara = ketakutan sebagai brand recall

Program Byungjin merupakan program Kim Jong Un untuk mempercepat perkembangan nuklir dan rudal balistik. Perkembangan itu pun diikuti dengan dibuatnya marketplaces di Pyongyang sebagai persiapan perkembangan ekonomi.

Langkah itu pun gambling. Karena untuk meningkatkan tahap dari brand recognition menjadi brand recall, Kim Jong Un harus menguatkan kembali pandangan dunia bahwa Korea Utara = ketakutan. Langkah yang hanya bisa ditempuh Kim karena sejak dulu brand recognition Korea Utara adalah senjata nuklir dan diktator.

Sehingga langkah yang harus dilakukan oleh Kim adalah mempercepat perkembangan rudal balistik melalui program byungjin dan mengancam AS melalui rudal. Dengan ekspektasi ketakutan dari Korea Selatan dan AS. Ketakutan tersebut pun yang akan menjadi brand recall. Sama seperti prinsip brand recall, ketika pertama kali disebut ‘nuklir’ dan ‘ketakutan’ maka jawaban yang pertama muncul adalah Korea Utara.

Ketakutan itu juga yang pada akhirnya diharapkan bisa membuat AS dan Korsel membuka tangan lebih dahulu untuk perdamaian. Jika AS dan Korsel membuka perdamaian lebih dahulu, tentu saja Kim tidak perlu meminta perdamaian = martabat Korea Utara pun terselamatkan.

Namun, langkah ini adalah gambling. Kenapa gambling? Karena hasilnya bisa saja dua hal, berdamai atau perang dunia ketiga. Berdamai jika AS membuka ruang diskusi dan berperang jika AS emosi terhadap Korea Utara.

Kenapa Korea Utara butuh pengakuan dunia? Karena Kim ingin mengikuti langkah China pada tahun 1980, yang dipimpin oleh Deng Xiaoping, untuk membuka jalur ke asing menanamkan modal dan investasi. Hasilnya? Sekarang China menjadi pusat ekonomi dunia.

Dan hal tersebut tidak mungkin terjadi jika Korea Utara masih memiliki masalah dengan Korsel dan AS.

Bagaimana Kim Jong Un melihat ketakutan sebagai sebuah potensi?

Semenjak pertama kali mengampanyekan diri, Trump selalu menggunakan “Make America Great Again” sebagai visi-nya. Yang sebelumnya sudah pernah saya bahas sebelumnya.

Baca Juga: Trump dan Keputusan Paris

Berkali-kali juga semenjak terpilih, Trump selalu menyalahkan pendahulunya yang selalu gagal bernegosiasi dengan Korea Utara. Mulai dari Bill Clinton, Bush, Hingga Obama. Semua selalu gagal.

Di sini lah Trump ingin menunjukan visi-nya. Jika Trump berhasil bernegosiasi dengan Korea Utara, Ia akan menguatkan brand recall-nya sebagai negosiator handal. Rakyat AS pun senang karena hanya Trump yang berhasil bernegosiasi dengan Kim Jong Un. Selain itu visi-nya “Make America Great Again” akan terlaksana. AS sebagai satu-satunya negara penentu yang bisa berdamai dengan Korea Utara.

Sehingga, Trump pun menggunakan semua cara agar negosiasi dengan Korea Utara berjalan dengan lancar.

Kim pun sepertinya paham sekali dengan Trump, yang semenjak pertama terpilih memilih untuk mendekatkan diri dengan musuh AS, seperti Rusia dan Israel. (Sesuai dengan visi Make America Great Again) dan memilih kawan AS sebagai musuh, seperti Iran, Kanada, dsb. Bahkan, sejak tahun 2016 Trump sudah membuka pintu untuk berdiskusi dengan Korea Utara.

strategi kim jong un

Trump ketika bertemu Trudeau (kiri) ketika bertemu Kim (kanan)

Karenanya, Kim melihat peluang. Semenjak Trump terpilih, pada Februari 2017, Kim meluncurkan rudal balistik pertamanya. Apa respon dari Trump?

“Kim is a pretty smart cookie. If it would be appropriate for me to meet with him, I would absolutely, I would be honored to do it” Trump, April 2017. 

Pendekatan Kim pun berhasil. AS membuka pintu pertemuan lebih dulu. Kim pun tidak ingin langsung bertemu dengan Trump, melainkan kembali meluncurkan tes rudal balistik pada Juli 2017. Yang menimbulkan respons dari Trump yang menggertak, “Does this guy have anything better to do with his life?”

strategi Kim Jong Un

Komentar Trump terhadap Kim

Tekanan rudal balistik dari Korea Utara pun membuat Trump mengeluarkan pernyataan bahwa Korea Utara akan berakhir dengan ‘fire and fury’. Pernyataan yang sebenarnya hanya gertakan karena tidak ada langkah konkrit. Berbeda dengan respons Korea Utara yang menyatakan bahwa rudal balistik mampu mencapai Guam. Hal yang menimbulkan kepanikan di Guam.

Media pun menggembor-gemborkan ketakutan yang ditunjukan oleh Kim Jong Un. Mulai dari 14 menit waktu evakuasi, hingga pernyataan dari investor di Guam:

“We have an evacuation plan for typhoon, tsunami, terrorism, but we don’t have anything for a North Korean missile attack.” Ujar salah satu pemilik resort di Guam.

Gembor-gembor media pun membuat Kim Jong Un menarik niat-nya untuk menembakan rudal ke Guam. Apa respons Trump? Kembali terbuka.

Kim Jong Un of North Korea made a very wise and well reasoned decision. The alternative would have been both catastrophic and unacceptable!

strategi kim jong un

Trump menilai langkah Kim tepat.

Hubungan kembali panas. September 2017 Trump memanggil Kim dengan sebutan “Little rocket man.

strategi kim jong un

Trump menyebut Kim, ‘Little rocket man!’

Kim pun tidak tinggal diam, ancamannya pun lebih kuat dari Trump. Salah satu surat kabar di Korut menulis bahwa hukuman Trump yang telah mengejek Kim adalah = hukuman matiKembali menimbulkan ketakutan.

Akhir November, Kim meluncurkan rudal Hwasong-15 dan menyatakan bahwa rudal mampu menjangkau daratan AS. 

Bagaimana respons Trump? Rasa takut mulai muncul setelah ejekan ‘little rocket man’ dan ‘fire and fury’ tidak berhasil. Trump pun meminta bantuan UN untuk menambahkan sangsi ke Korea Utara. Tweet Trump pun menunjukan bahwa dia tidak melawan. Berbeda dengan tweet-tweet sebelumnya. The world wants peace, not death!

strategi kim jong un

Trump mulai ‘takut’ dengan Kim.

Bagaimana Korea Utara menghadapi sangsi? Padahal hampir 90% pendapatannya berasal dari pertukaran dagang dengan China? Kim pun telah mengantisipasi ini. Dengan program byungjin, pasti akan ada sangsi dari UN. Karena itu, Ia telah siap dengan market yang sudah dibuatnya. Korea Utara juga sudah menyediakan cadangan beras. Forbes pun ikut membuat tulisan ‘North Korea in Crisis? What Crisis?’ Hal ini semakin menguatkan persepsi bahwa = Korea Utara tetap bisa berdiri sendiri dan tak bergantung dengan negara lain.

Januari 2018 pun Kim mengeluarkan pernyataan bahwa tombol nuklir ada di mejanya dan selalu siap. Menunjukan bahwa Kim tidak terpengaruh dengan sangsi dan kembali menakut-nakuti AS. Respons Trump? “it is a much bigger & more powerful one than his, and my Button works!

strategi kim jong un

Perang tombol antara Kim dan Trump

Trump kembali menggertak. Apakah Ia pernah menunjukan secara langsung? Tidak. Berbeda dengan Korea Utara yang sudah menunjukan rudal balistik berhasil lewat langit Jepang.

Berawal dari Olimpiade Pyongchang, hubungan Korea Utara dan Korea Selatan pun mulai cair. Kim melihat Olimpiade sebagai momentum, untuk membuka perdamaian dengan Korsel dan AS.

Dengan dibukanya pintu diskusi, Kim langsung berkunjung ke China menemui Xi Jinping. Kunjungan pertama kali ke luar negeri. Tujuannya? Untuk memperbaiki hubungan dagang. Karena China adalah mentor sekaligus aliansi dagang paling potensial dari Korea Utara.

Tekanan yang diberikan Kim terus menerus pun hanya memiliki satu tujuan: brand recall terhadap kemampuan rudal balistik yang bisa menghancurkan Guam, dan bukan tidak mungkin AS. Brand recall yang mengidentikkan Korea Utara = Ketakutan.

Brand recall yang pada akhirnya membuat Trump “takut” dan membuka pintu perdamaian lebih dahulu dengan Korea Utara. Selain itu, ambisi Trump untuk “Make America Great Again” membuat brand recall ketakutan yang ditanamkan Korea Utara sukses.

Bahkan, untuk bernegosiasi Trump mengirim Mike Pompeo untuk berkunjung ke Korea Utara. Bukan tempat lain, tapi di Korea Utara.

strategi kim jong un

Pompeo bertemu Kim Jong Un di Pyongyang.

Denuklirisasi pun tidak masalah untuk Kim karena tujuan utama-nya adalah pertumbuhan ekonomi. Dan cara yang digunakan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi adalah menggunakan sumber daya yang sudah dimiliki: Rudal dan Nuklir.

Dampaknya? Pertemuan yang terjadi kemarin merupakan kemenangan untuk Kim Jong Un. Kenapa? Karena Korea Utara dianggap setara, punya reputasi dan tidak kalah dengan AS. Korea Utara tidak perlu meminta perdamaian dan menjatuhkan martabat. China membuka kembali pintu ekonomi, sangsi ekonomi UN dihilangkan, dan AS pun ikut membuka pintu ekonomi terhadap Korea Utara. Misi Kim Jong Un berhasil.

Apa yang didapatkan oleh AS? Program denuklirisasi yang tidak ada ketentuan kapan akan selesai, tentu kerugian buat AS. (Trump hanya mengatakan segera) Hal positif yang didapat adalah pujian terhadap Trump yang mengalir deras dari warga AS (bukan tidak mungkin meningkatkan elektabilitas untuk terpilih lagi), dan memenuhi visi pribadinya: Make America Great Again dan brand recall dirinya sebagai negosiator handal.


Analisis ini saya buat dari perspektif branding. Kim Jong Un menurut saya berhasil menggunakan strategi yang pada akhirnya menguntungkan Korea Utara.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah menurut Anda ada kemungkinan Korea Utara untuk ‘ingkar janji’ terhadap perjanjian seperti pendahulunya?

Saya pribadi tidak yakin dengan hal tersebut, karena Kim Jong Un menurut saya memiliki wawasan lebih terbuka terhadap perubahan. Bukan tidak mungkin 30 tahun ke depan Korea Utara akan menjadi raksasa ekonomi seperti China sekarang.

Article by fauziananta1

Masih dalam proses belajar digital marketing dan strategi branding.

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of