strategi digital marketing

Cara Menjalankan Strategi Digital Marketing dengan Efektif

Menjalankan strategi digital marketing dengan efektif membutuhkan ketekunan. Menentukan strategi, merumuskan taktik yang akan digunakan, hingga mengukur keberhasilan dengan indikator yang tepat. Salah langkah sedikit, semua bisa jadi berantakan. Lalu, bagaimana cara memulai strategi digital marketing dan menjalankannya dengan efektif?


Sebelum memulai, ada baiknya Anda membaca lebih dulu panduan belajar digital marketing.

Banyak yang kebingungan bagaimana menjalankan strategi digital marketing yang efektif. Strategi bukanlah strategi Instagram, ataupun strategi Facebook. Itu adalah channel. Strategi juga bukanlah apa yang akan di-posting di Instagram, ataupun apa yang diisi di website, itu adalah taktik. Hal-hal tersebut yang terkadang masih sulit dipahami perbedaannya oleh mayoritas orang.

Jika taktik adalah apa yang di-post di Facebook, strategi adalah kenapa Anda membagikan konten tersebut. jJuga kenapa Anda menggunakan Facebook sebagai salah satu channel. Itulah strategi. Strategi menjadi dasar dalam semua hal yang akan dilakukan, mulai dari channel hingga taktik yang digunakan.

Lalu, bagaimana cara untuk membuat strategi digital marketing dan menjalankannya dengan efektif?

  1. Tentukan Strategi Anda

Tahap pertama Anda harus menentukan strategi yang akan digunakan. Anda harus memahami apa Unique Selling Proposition (USP) dari produk ataupun bisnis yang ingin Anda jual. Apakah pelayanan Anda? Ataukah kualitas dari produk yang ingin Anda kedepankan?

Setelah mengetahui apa USP dari produk Anda, tahap selanjutnya adalah menjadikan USP tersebut sebagai cerita. Cerita yang bisa Anda gunakan dalam semua taktik. Cerita tersebut juga yang akan meninggalkan kesan pertama terhadap audiens.

Misalnya saja produk Geico. Ketika kita berkunjung ke website-nya, cerita yang bisa diambil adalah fun dan dependable. Terlihat dari tagline-nya, yaitu More than just car insurance. Geico pun menggunakan maskot yang menggemaskan untuk menunjukan kesan fun.

strategi digital marketing

Web Geico sebagai contoh.

Kedua hal tersebut pun diaplikasikan dengan baik melalui channel Youtube untuk memperkuat kesan fun dan dependable.

Setelah menentukan cerita, selanjutnya adalah memahami kebutuhan emosional dari audiens. Misalnya saja ketika seorang wanita membeli sepatu, kebutuhan emosional ketika membeli sepatu adalah orang lain juga menyukainya. Itulah fungsi emosional dari sepatu. Lalu, bagaimana cara memenuhi kebutuhan emosional tersebut? Buatlah list sepatu “most favourite”.

Contoh lain, ketika tour & travel hanya menjual pesawat dan perjalanan. Apakah itu memenuhi kebutuhan emosional konsumen? Mungkin saja tidak. Cara untuk memenuhi kebutuhannya adalah tunjukan kebahagiaan dari traveling setelah kerja keras selama beberapa minggu. Atau kebahagiaan dari traveling bersama keluarga.

strategi digital marketing

Kebutuhan emosional konsumen

Setelah mengetahui kebutuhan emosional, saatnya membuat value statement. Buatlah beberapa kata yang bisa meringkat semua hal yang telah Anda buat di atas. Tips dari saya, buat maksimal 140 kata. Contohnya saja Microsoft Dynamic dengan “Your transformation starts here”

strategi digital marketing

Contoh di Dynamics

Buatlah value statement yang mengedepankan konsumer, bukan perusahaan.

  1. Petakan audiens

Tahap selanjutnya setelah menentukan strategi adalah petakan audiens. Anda harus memahami audiens hingga tahap personal agar strategi bisa dijalankan dengan sukses. Pertama-tama, Anda harus menentukan Audience persona. Seperti apa audiens Anda? Pahami mulai dari aspek demografi, motivasi, hingga tujuan mereka.

strategi digital marketing

Contoh audience persona

Setelah membuat audience persona, mungkin Anda akan memahami bahwa semua audiens Anda tidaklah sama. Ada yang bermotivasi untuk membeli, ataupun hanya untuk mencari informasi. Untuk itu, penting bagi Anda untuk membuat segmentasi audiens.

strategi digital marketing

Pembagian segmentasi audiens.

Setelah membuat segmentasi, penting bagi Anda untuk memahami mana audiens yang potensial? Apakah ibu-ibu umur 35-40 yang punya 1 anak? Ataukah ibu-ibu umur 30-35 yang masih belum punya anak? Aspek yang bisa diukur adalah keuntungan, Anda bisa mengetahui keuntungan tersebut dengan mengukur value dari kostumer, atau biasa disebut dengan Costumer lifetime value. (CLV)

Mengukur tingkat keuntungan bisa diukur dengan RFM analysis. (recency, frequence, monetary) Dengan menggunakan RFM, Anda bisa mengetahui segmentasi yang paling potensial, hingga produk yang paling menguntungkan.

strategi digital marketing

Menghitung RFM analysis

Setelah memahami berapa CLV Anda, bagaimana cara meningkatkannya? Cara untuk meningkatkan CLV adalah meningkatkan loyalitas dari konsumer dan buat mereka promosi ke teman-teman. Karena marketing terbaik adalah word of mouth. Bahkan, data menunjukan bahwa satu orang yang melakukan repetisi pembelian lebih baik dari 5 orang kostumer baru.

Itulah kenapa Anda mungkin pernah melihat kuesioner dengan pertanyaan, “how likely are you to recommend?” Dalam skala 1-10, orang yang membuat kuesioner akan mengetahui apakah Anda audiens yang loyal atau tidak.

strategi digital marketing

Cara menghitung Net Promotor Score.

Dari gambar di atas, Anda bisa mengetahui mana kostumer Anda yang loyal. Setelah itu, Anda bisa menjadikan loyalitas tersebut agar dia bisa mempromosikan produk Anda. Untuk lebih jelas tentang cara menghitung NPS, bisa klik link berikut.

  1. Tentukan goals dan objectives.

Mengembangkan rencana marketing adalah salah satu cara agar strategi yang sudah dibuat bisa berjalan dengan baik. Salah satu caranya adalah memahami bagaimana bisnis Anda bekerja dan goals dari bisnis yang Anda miliki.

Jika goals bisnis Anda adalah mendapatkan banyak kostumer baru, tugas digital marketing adalah menggaet banyak kostumer baru dan mengukur tingkat kesuksesan berdasarkan goals. Sama halnya jika goals-nya adalah meningkatkan profitability, berarti Anda harus meningkatkan revenue dan memotong biaya yang dikeluarkan.

Misalnya saja jika goals dari bisnis Anda adalah revenue sebesar 500 juta rupiah. Bagaimana menjadikan hal tersebut sebagai suatu marketing plan yang tangible (dapat diukur)?

Jika keuntungan dari satu produk adalah 450 ribu rupiah, untuk mencapai 500 juta Anda membutuhkan 1.112 kostumer dalam setahun. Apakah hal tersebut cukup untuk dijadikan sebagai marketing goals? Tidak. Anda harus mengetahui berapa conversion rate dari orang yang mem-booking dan membayar? Misalnya 80%, berarti Anda harus mendapatkan 1.390 bookings dalam setahun. Setelah itu, Anda juga harus mengetahui conversion rate dari orang yang bertanya ke orang yang membeli. Misalnya 60%, berarti Anda harus mendapatkan 2.316 orang yang bertanya tentang produk Anda.

Terakhir, Anda harus mengetahui berapa conversion rate dari orang yang berkunjung ke website dan bertanya. Misalnya, 10% orang yang berkunjung adalah yang memiliki interest untuk bertanya. Berarti, Anda butuh 23.160 visitor ke website dalam setahun. Dari mana Anda mengetahui conversion rate antar tahap? Dengan memahami analytics, terutama Google Analytics.

Setelah menentukan target, tahap selanjutnya adalah menentukan channel yang akan digunakan. Sebelum masuk ke tahap tersebut, Anda harus menyesuaikan dengan apa yang ingin dicapai. Apakah acquisition? Atau engagement? Berbeda goals tentunya akan berbeda channel. Jika goals-nya adalah acquisition, channel yang harus Anda maksimalkan adalah Search Engine Marketing (SEM). Anda harus memiliki website dengan konten yang kuat agar bisnis Anda bersahabat dengan SEO. Kenapa harus SEM? Karena SEM bisa memberikan Return on Investment yang paling tinggi dibanding channel lainnya.

Jika goals Anda adalah engagement, maka channel terbaik adalah media sosial. Jika goals-nya adalah mengumpulkan audiens yang loyal, e-mail marketing adalah channel yang tepat.

  1. Mengukur strategi yang sudah dilakukan

Tahap terakhir setelah menjalankan adalah mengukur. Dengan mengukur, Anda bisa tahu channel dan taktik mana yang efektif. Selain itu juga hal yang dilakukan setelahnya.

Ada beberapa hal yang bisa diukur, yaitu KPI, engagement, dan objective. KPI adalah goals yang tidak langsung memiliki dampak ke penjualan, tapi semua mengarah ke sana. Misalnya saja, website visit, social sharing, hingga SEO ranking. Semua itu tidak secara langsung mengarah ke penjualan.

Sama halnya dengan engagement. Sebenarnya, engagement juga bisa masuk ke KPI, tapi engagement lebih ke interaksi yang muncul dalam konten. Mulai dari jumlah likes, share, hingga impressions.

Hal terbesar yang bisa diukur adalah objectives. Berapa peningkatan penjualan, hingga peningkatan leads. Belum tentu KPI dan engagement yang tinggi, berhasil melampaui objectives yang diinginkan. Misalnya, engagement di media sosial tinggi, tapi tingginya engagement ternyata tidak berdampak apapun ke sales. Tidak ada conversion rate, maka channel tersebut tidak mencapai objective yang diinginkan.

strategi digital marketing

Hal yang sering dianalisis oleh marketeers.

Hal yang paling sering diukur oleh para marketer adalah website visit, social sharing, time on site, hingga SEO Ranking. Keempat hal tersebut tidak terhubung langsung dengan sales dan leads. Berbeda dengan 2 terakhir yang berhubungan dengan objective ternyata sangat jarang dianalisis oleh para marketer.

Disinilah masalahnya, padahal hal tersebut bisa merupakan hal vital untuk bisnis. Jika ternyata website visit tinggi, tapi tidak memiliki konversi yang berpengaruh ke penjualan, bagaimana Anda bisa mengevaluasi channel tersebut? Tentu penjualan Anda tidak akan meningkat tanpa Anda mengetahui apa yang salah.

Misalnya saja ketika Anda memasang facebook Ads di Facebook. Jika Anda melihat KPI dan engagement, yang Anda lihat adalah jumlah likes, share, hingga impressions. Tapi jika ternyata objective Anda adalah meningkatkan leads, maka Anda harus melihat lebih dalam.

Cara pertama adalah mengukur cost per engagement. Dengan ini Anda bisa mengetahui harga dari 1 engagement. Cara menghitung CPE adalah:

CPE: Biaya yang dihabiskan/total engagement

Jika objectives Anda dalam campaign Facebook Ads tersebut adalah audiens masuk ke landing page dan registrasi, maka CPE tidaklah cukup. Anda harus menghitung click-through-rate yang dihasilkan.

CTR= Jumlah reach/click

Hasil dari CTR adalah presentase. Jika Anda ingin hal yang lebih tangible, Anda bisa menggunakan cost per click. Dengan ini Anda bisa mengetahui biaya yang sudah Anda habiskan untuk mendapatkan satu orang yang registrasi. Objectives terlalui dan Anda bisa mengetahui Return on Investment dari campaign yang sudah dilakukan.

CPC= Biaya yang dikeluarkan/Click

Semua hal yang diukur akan sangat membantu Anda untuk melakukan perbandingan, mana channel yang lebih efektif, mana landing page yang bisa lebih meningkatkan conversion rate dan campaign mana yang lebih efektif.

strategi digital marketing

Tahap funnel dalam marketing


Dalam dunia digital marketing, Anda tidak pernah bisa lepas dari data. Anda dituntut untuk bisa menggunakan data tersebut sebagai pembuatan taktik, hingga evaluasi strategi.

strategi digital marketing

Tahapan evaluasi

Strategi yang sudah Anda buat sejak awal, tentu akan berjalan efektif jika semua hal berjalan beriringan, tidak hanya marketing tapi dengan goals yang dimiliki oleh perusahaan Anda. Mengaplikasikan strategi menjadi suatu hal yang tangible dan menjalankannya sesuai dengan objective yang ditentukan akan membawa strategi Anda menuju keberhasilan.

Selamat berjuang.

Article by fauziananta1

Masih dalam proses belajar digital marketing dan strategi branding.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *