bahasa dalam brand

Penggunaan Bahasa dalam Brand untuk Meningkatkan Brand Recall

Makin banyaknya kompetitior menuntut sebuah brand untuk bisa tampil berbeda agar dilirik pasar. Untuk itu, penggunaan bahasa dalam brand merupakan suatu hal penting karena dinilai bisa memberikan nilai persuasif. Lalu, bagaimana penggunaan bahasa yang tepat agar brand kita bisa stand out?


Jika Anda memiliki sebuah usaha dan diminta untuk melakukan riset kompetitor, apakah Anda akan menemukan seabrek kompetitor di luar sana?

Kemungkinan besar iya.

Lalu bagaimana strategi Anda agar usaha yang Anda miliki bisa stand out di antara semua kompetitor?

Apakah Anda hanya melakukan cara yang biasa saja agar bisa stand out? Apakah bisa berhasil?

Mungkin saja tidak.

Lalu, bagaimana strategi-nya agar bisa berhasil selain dengan menggunakan strategi marketing?

Penggunaan bahasa dalam brand agar bisa sampai tahap ke brand recall.

Apa itu brand recall? Baca lebih lanjut di sini.

Selain untuk meningkatkan brand recall, penggunaan bahasa yang tepat bisa membangun kepercayaan, dan mempersuasi orang untuk membeli suatu produk.

Sebagai contoh, Donald Trump bisa memenangkan pemilihan di AS karena bahasa yang digunakan.

Selain itu, Anda pasti mengerti dengan Starbucks yang selalu menuliskan nama pembeli di gelas-nya? Itu mereka gunakan sebagai bahasa untuk lebih dekat dengan pembelinya.

Bahasa dalam Brand

Nama dalam Gelas Starbucks Menunjukan kedekatan

Bahkan, Starbucks sudah sampai ke tahap brand recognition dengan hanya menunjukan gelasnya.

Anda mungkin sering punya teman yang merasa namanya salah ditulis, kemudian mengunggahnya di media sosial. Apakah hanya dengan melihat gelasnya, Anda sudah mengetahui bahwa itu milik Starbucks?

Itulah brand recognition.

Itulah kenapa penggunaan bahasa itu penting. Bahasa tidak harus semua yang tertulis, tapi juga bagaimana cara kita berkomunikasi dengan konsumen.

Namun, kali ini saya akan membahas penggunaan bahasa yang tertulis dalam brand.

Setidaknya ada 4 tahap yang harus Anda lewati agar bisa sampai ke tahap brand recall.

  1. Tentukan value yang Anda miliki

Sebelum membahas “bagaimana” menyampaikan brand, Anda harus mengerti lebih dahulu “apa” yang akan disampaikan.

Itulah kenapa value dalam sebuah brand itu penting.

Jika Anda kebingungan tentang value yang brand Anda miliki, Anda bisa mulai dengan menemukan diferensiasi dari kompetitor, atau biasa disebut dengan unique selling proposition.

Apakah brand Anda berbeda dari segi chemistry dengan konsumen?

Ataukah brand Anda memiliki produk yang high class dengan harga yang terjangkau?

Setelah menemukan value yang Anda miliki, bagaimana Anda ingin mendefinisikan brand Anda?

Misalnya saja brand Apple yang mendefinisikan diri sebagai innovate, dream dan inspire.

Ataupun brand Red Bull yang adventure, try dan adrenaline.

Lalu, bagaimana Anda mendefinisikan brand Anda?

Pilih 3 kata untuk mendefinisikan brand Anda. Petunjuk di bawah ini bisa Anda jadikan panduan.

bahasa dalam brand

Brand Voice sebagai petunjuk tambahan

Foto di atas bisa Anda pilih, tapi jika memang Anda memiliki kata lain yang tidak ada di gambar tidak apa-apa.

  1. Menentukan personality brand Anda

Setelah mengetahui “apa” yang ingin Anda sampaikan, selanjutnya adalah “bagaimana” menyampaikannya ke audiens.

Untuk menyampaikannya ke audiens Anda perlu mem-framing dengan bercerita.

Tidak cukup jika Anda hanya berkata “Saya berjualan deterjen termurah se-dunia”

Anda harus bercerita, karena bercerita merupakan cara efektif dalam marketing.

Karenanya, Anda harus menganggap brand Anda sebagai manusia.

Apakah brand Anda memiliki personality ibu-ibu umur 35-50 tahun yang senang arisan?

Miliki personality yang sesuai dengan target audiens.

Menggunakan bahasa formal atau informal?

Hal ini yang terkadang masih menjadi masalah bagi banyak brand.

Banyak brand yang kebingungan menentukan mana yang sesuai dengan brand-nya.

Penggunaan kata-kata tergantung dengan personality yang brand Anda bawakan.

Jika personality brand Anda adalah brand yang intelek, maka gunakan bahasa formal yang baku.

Berikut ini akan saya tunjukan beberapa contoh penggunaan bahasa dalam sebuah brand.

bahasa dalam brand

Bahasa dalam CCN sangat formal

CNN sebagai portal berita, sangat pantas jika menggunakan bahasa formal baku sebagai penyaluran informasi.

bahasa dalam brand

Hiut Denim menggunakan bahasa yang formal namun tetap persuasif

Hiut Denim menunjukan jika bahasa yang formal bisa dicampur dengan kata-kata yang persuasif dalam kata-kata “When not modelling, she is really into rock climbing”

bahasa dalam brand

McDonalds menggunakan bahasa yang berima

McDonalds menggunakan bahasa yang semi formal, karena bahasa yang digunakan sedikit lucu, menggunakan rima yang beraturan.

bahasa dalam brand

Innocent menggunakan bahasa yang humoris

Innocent menunjukan humornya dalam penggunaan bahasa “even your Dog”. Bahasa yang tetap digunakan untuk menjual namun dimasukan bahasa yang humoris.

bahasa dalam brand

Mailchimp menggunakan bahasa yang fun

Anda juga bisa menggunakan kata-kata seperti ‘Ha!’ Ataupun ‘Woohooo’ jika memang personality brand Anda adalah fun.

Bagaimana penggunaan bahasa yang terlalu teknis?

Apakah penggunaan kata-kata yang terlalu teknis seperti white-SEO ataupun Depth of Field cocok digunakan untuk brand Anda?

Hal tersebut tidak apa-apa digunakan jika memang target audiens Anda mayoritas mengerti bahasa tersebut.

Jika target audiens Anda adalah anak-anak yang senang fotografi, penggunaan kata exposure diperbolehkan.

Penggunaan Kata dalam Tagline

Penggunaan kata-kata dalam tagline juga bisa mempengaruhi psikologi audiens.

Misalnya saja penggunaan kata-kata “Your” lebih dipilih daripada “You”

Meskipun kedua kata tersebut memiliki arti yang hampir sama, tapi dalam penggunaannya bisa menimbulkan efek yang berbeda.

bahasa dalam brand

Penggunaan kata “Your” dalam Brand

Penggunaan kata-kata “Looking after your world” lebih menunjukan bahwa dunia audiens adalah hal yang diutamakan oleh British Gas.

Coba dibandingkan dengan “Looking after you”, penggunaan kata-kata “your world” menunjukan intimitas jika dibandingan dengan hanya “you”

bahasa dalam brand

On Your Side digunakan oleh Nationwide

Sama halnya dengan penggunaan “On Your Side” yang lebih mudah diingat daripada “Beside you” meskipun keduanya memiliki arti yang sama.

Bagaimana Memahami Audiens?

Inilah hal yang sulit.

Anda harus memahami bahasa apa yang target audiens Anda gunakan, isu yang sedang hangat hingga kebiasaan mereka agar brand Anda bisa lebih dekat dengan mereka.

Jika Anda memiliki waktu lebih, Anda bisa melakukan FGD ke beberapa audiens yang dianggap mewakili.

Namun jika tidak, Anda bisa melakukan survei singkat untuk mengetahuinya.

  1. Implementasi

Setelah mengetahui value dan personality dari brand Anda, saatnya mengaplikasikannya ke brand Anda.

Tahap ini sedikit sulit karena Anda harus bisa terus konsisten dengan personality dari brand Anda.

Untuk itu, jika Anda memiliki tim, pastikan tim Anda benar-benar mengerti tentang brand Anda.

Saya menyarankan Anda untuk membuat brand voice agar bisa terus konsisten.

bahasa dalam brand

Contoh brand voice untuk usaha Anda

Jelaskan secara detail apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam brand Anda.

  1. Monitor brand Anda

Setelah menjalankannya, Anda harus memonitor kinerja brand Anda.

Apakah brand Anda menjadi bahan pembicaraan?

Ataukah brand Anda baru mencapai tahap awareness?

bahasa dalam brand

Mention sangat berguna untuk memonitor brand Anda

Untuk memonitor Anda bisa menggunakan Mention

Atau Anda bisa menggunakan analytics bawaan di media sosial, ataupun Google Analytics di website.

Setelah Anda memonitor, Anda bisa melakukan evaluasi.

Apakah strategi yang Anda gunakan sesuai?

Apakah penggunaan bahasa ini sesuai dengan target audiens?


Menggunakan bahasa dalam brand memang sangat penting.

Namun, menyusun strategi juga harus diimbangi dengan eksekusi yang konsisten.

Selamat mencoba.

Semoga beruntung.

Jika Anda menemukan kesulitan dan ingin bertanya, Anda bisa menghubungi saya di sini. 

Article by fauziananta1

Masih dalam proses belajar digital marketing dan strategi branding.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *