4 Alasan Memulai Marketing Melalui Video Vertikal

Munculnya IGTV dengan format video vertikal membuat munculnya banyak pertanyaan, apakah video vertikal adalah masa depan? Dan kenapa brand-mu harus segera beradaptasi?


Jika Anda sedang berada di sebuah momen menarik dan mengeluarkan smartphone untuk merekam, Anda akan merekamnya secara vertikal atau horizontal? Jika merekam secara vertikal, Anda termasuk ke dalam orang yang mempopulerkan penggunaan video vertikal.

marketing melalui video vertikal

Video vertikal

Semenjak kemunculan Snapchat dan InstaStories pun kebiasaan kita berubah. Secara tak disadari kita sering sekali mengambil momen secara vertikal. Bahkan, sebuah riset menunjukan bahwa 94% manusia memegang handphone secara vertikal.

Apakah kebiasaan tersebut dilihat oleh Instagram sebagai peluang? Bisa jadi. Apakah Instagram sejak awal memang memiliki visi untuk menyaingi Youtube? Mungkin saja.

Lalu, kenapa brand Anda juga harus memanfaatkan peluang tersebut?

  1. Orang-orang mengakses media sosial melalui smartphone

Ini merupakan fakta sejak beberapa tahun yang lalu. Hampir setiap tahun selalu ada statistik yang menunjukan penggunaan smartphone setiap harinya. Menurut Digiday, diprediksikan pada tahun 2018 orang-orang akan mengakses media sosial melalui smartphone selama 3 jam 20 menit. Berbanding jauh dengan akses menggunakan desktop yang hanya 40 menit.

Sebagai sebuah brand, tentu data tersebut bisa jadi peluang. Konten yang dikeluarkan oleh brand pun harus menyesuaikan dengan audiens, yaitu menggunakan smartphone.

marketing melalui video vertikal

Data penggunaan media sosial dalam smartphone

  1. Mayoritas menggunakan smartphone secara vertikal

Perubahan smartphone mengikuti perkembangan zaman. Semenjak awal keberadaannya, handphone digunakan untuk telpon dan desainnya dibuat miring seperti telepon umum agar memudahkan manusia ketika berbicara. Sama halnya dengan munculnya handphone gaming seperti NGag agar memudahkan pengguna menggunakan 2 tangan.

Yang paling baru, layar 16:9 yang semakin panjang untuk memudahkan kita menonton video, dan mulai muncul lubang headset di bagian bawah agar memudahkan kita saat menarik handphone dari kantong ketika mendengarkan musik.

Zaman terus berubah namun satu hal yang pasti, kita semakin sibuk dan selalu ingin bergegas. Apakah banyak orang yang ingin semuanya hanya ada di satu platform seperti Instagram? Bisa jadi. Data pun menunjukan bahwa 94% orang menggunakan smartphone-nya secara vertikal. Ditambah dengan kebiasaan orang yang menonton Instastory secara vertikal di waktu luang. Kebiasaan tersebut pun bisa jadi lama kelamaan akan menjadi hal yang biasa dilakukan.

  1. Vertikal video mengonversi iklan secara lebih baik

marketing melalui video vertikal

Konversi iklan dalam Snapchat.

Pada 2015, Snapchat mengumumkan bahwa iklan secara vertikal bisa mengonversi 9x lipat dari iklan horizontal. Saya pun mencoba menerka-nerka hal tersebut terjadi karena orang menonton video horizontal, pasti tujuannya adalah menonton. Sehingga ketika muncul iklan Anda langsung menekan skip.

Berbeda dengan video vertikal yang digunakan oleh orang saat mengecek media sosial. (contoh, Instastory). Sehingga, orang tidak memiliki fokus yang pasti seperti menonton Youtube. Hal tersebut membuat orang yang melihat iklan, mungkin akan lebih menikmatinya.

marketing melalui video vertikal

Konversi dalam iklan di video vertikal.

  1. Kostumer itu malas

Zena Barakat, salah seorang video produser dari New York times menghabiskan 1 tahun untuk meneliti tentang video vertikal. Ini adalah komentar-nya yang terkenal:

As a person who makes videos, I was like, ‘You’re not seeing it the way we intended it! And they were like, ‘We don’t care!’ They found it so uncomfortable to hold the phone the other way, and they didn’t want to keep switching their phones back and forth. Dikutip dari sini.

Harus diakui bahwa tidak sedikit orang yang lebih memilih menonton video secara vertikal karena mengubahnya menjadi horizontal itu butuh effort lebih. Itupun berlaku terutama di media sosial. Ketika Anda sedang scrolling Instagram dan muncul video horizontal, apakah Anda mau mengubah orientasi handphone Anda? Mungkin saja tidak.

Selain itu, IGTV pun menjadi opsi untuk orang yang malas membuka platform lain ketika sudah scrolling di Instagram.


Bagaimana dengan kendala? Tentu saja kendala terbesar adalah produksi. Ketika sudah terbiasa mengambil video secara horizontal, mengambil video secara vertikal adalah sebuah kesulitan. Frame yang diambil tentu akan sangat berbeda.

marketing melalui video vertikal

Komposisi dalam video vertikal

marketing melalui video vertikal

Contoh video vertikal.

*TOP TIPS*

Ketika mengambil video vertikal, ambil secara horizontal tapi dengan jarak yang lebih luas, sehingga ketika dipotong secara vertikal, bisa menyesuaikan.

Bagaimana dengan ide konten dalam video vertikal? Saya sudah pernah membuat tulisan mengenai cara memaksimalkan Instagram Stories dalam content marketing di artikel berikut ini:

Baca juga: Cara Menggunakan Instagram Stories sebagai Marketing 

Bagaimana dengan respons penolakan terhadap IGTV?

Saya meyakini bahwa penolakan terhadap IGTV itu hal yang biasa. Karena pada dasarnya penolakan berawal dari ketidaklaziman. Sama halnya dengan diubahnya chronological order, dan awal munculnya InstaStories, muncul kebingungan dan banyak pertanyaan dari pengguna Instagram.

Bagaimana sekarang? Orang pun mulai terbiasa dengan InstaStories, bahkan beberapa tidak bisa lepas melihat semua InstaStories temannya. Hingga tahap kecanduan yang lebih akut; mengecek siapa saja yang melihat stories kita.

Lagi-lagi, saya percaya bahwa Instagram adalah bisnis. Sebagai bisnis, profit adalah yang utama. Instagram pasti melihat peluang setelah merebut pasar Snapchat dan menambah pemasukan melalui iklan di Instagram Stories.

Sama halnya dengan munculnya IGTV yang menurut saya berusaha mengambil pasar Youtube (meskipun akan sulit) dan bukan tidak mungkin, jika sukses, akan muncul iklan lain di IGTV kita semua.


Tertarik untuk memaksimalkan penggunaan konten melalui video? Berkunjunglah ke sini. 

Article by fauziananta1

Masih dalam proses belajar digital marketing dan strategi branding.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.