Makna Totalitas dalam Sebuah Event

Banyak sekali teman yang menggerutu “Ah Event mah gak penting!” Lalu apakah benar bahwa event tidak penting dalam dunia perkuliahan?


Selama hampir empat tahun berkuliah, saya sudah mengikuti belasan – bahkan puluhan – event di kampus.

Dari berbagai pengalaman tersebut saya dapat menyimpulkan satu hal; tidak sedikit – bahkan banyak – mahasiswa yang tiba-tiba melepaskan tanggung jawab dari event. Ya, secara mudah disebut mereka tiba-tiba ngilang ketika kita sedang mencarinya.

Ketika Anda mau mendelegasikan sebuah pekerjaan dan dia tidak membalas…

Ataupun ketika Anda sudah memberikan pekerjaan namun ketika ditanya dengan entengnya dia menjawab “Oh iya, lupa.”

Ataupun ketika ada kumpul rutin dia tidak pernah datang, juga menjawab.

Kalau Anda merupakan atasannya ataupun temannya, pasti merasa geram, kan?

Tidak salah memang. Toh, berasumsi buruk juga tidak selalu baik. Mungkin saja dia orangnya memang lebih mementingkan akademik; ingin mendapatkan nilai baik dan lulus cepat.

Atau mungkin memang dia tidak merasa nyaman bekerja dengan tim yang ada. Ada belasan asumsi juga alasan yang menjadi alasan kenapa mereka tiba-tiba ingin melepaskan tanggung jawab dari event tersebut.

Membuat semua lini per divisi ikut aktif membantu event memang terdengar sedikit utopis. Tapi, saya akan tetap menyampaikan beberapa alasan, kenapa sih harus tetap total di sebuah event.

Artikel ini saya buat khusus kepada teman-teman yang sering menggerutu “Ah, event mah gak penting!”

1. Branding diri sendiri

Sebagai freelancer fotografi dan videografi, saya kerap mendokumentasikan apapun kemudian secara konsisten mengunggah hasilnya di Instagram. Beberapa bilang saya memiliki karya yang tidak buruk-buruk amat.

Namun, karena konsistensi tersebut, nama saya yang muncul di pikirannya pertama kali jika mereka membutuhkan jasa fotografi ataupun videografi.

Sama seperti yang Chris Ducker katakan, brand merupakan apa yang orang katakan ketika Anda tidak berada di sana.

Jadi, siapa tau Anda ingin mem-branding sebagai orang yang mahir mengoperasikan kamera, atau sebagai orang yang memiliki manajerial bagus, ataupun seorang yang pandai berbicara, pergunakan event sebagai batu loncatan dan secara konsisten menjadi branding yang Anda inginkan.

Karena nyatanya, konsistensi memang penting dalam branding diri.

2. Membentuk Kepercayaan Publik

Kepercayaan itu penting. Apa jadinya jika Anda sudah dipercaya menjadi bagian dalam sebuah event, namun Anda melunturkan kepercayaan tersebut karena tiba-tiba lepas dari tanggung jawab?

Saya pernah mendapatkan kepercayaan untuk menjadi freelancer dokumentasi di acara fakultas yang bertajuk A**PP. Berawal dari situ, pekerjaan saya pun berlanjut ke event-event lain. Jasa saya sejauh ini masih lumayan sering digunakan.

Dari situ bisa dipelajari jika pekerjaan Anda bagus, orang lain akan mengetahui. Ataupun orang yang pernah bersama Anda menyelesaikan sebuah proyek, akan selalu terpikirkan Anda jika ada proyek serupa.

Quote yang sesuai untuk teman-teman event organizer.

Quote yang saya ambil ketika dulu sedang membaca artikel tentang branding.

3. Mendapatkan Rekomendasi

Rekomendasi merupakan hasil jangka panjang dari pekerjaan Anda yang bagus. Seperti investasi, hasil lebih akan Anda dapatkan di kemudian hari.

Saya pernah bekerja bersama seseorang di program Mata Najwa On Campus. Dari situ, saya mendapatkan rekomendasi untuk membantu program Mata Najwa melakukan dokumentasi ketika berkunjung ke markas Endank Soekamti.

Hal tersebut menjadi pelajaran bahwa rekomendasi merupakan investasi jangka panjang.

—-

Totalitas dan kerja akan berimplikasi ke masa depan, sekaligus membangun branding diri. Jadi, buat teman-teman yang merasa belum total dalam melakukan apapun, tidak hanya event, ada baiknya untuk menimbang kembali sebelum melakukan sesuatu. Semoga sukses.

 

Article by fauziananta1

Masih dalam proses belajar digital marketing dan strategi branding.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *