brand dalam video

5 Cara Membangun Brand dalam Video

Tidak sulit menghasilkan uang lewat Youtube jika Anda mengerti strategi yang harus digunakan. Bagaimana strategi membangun brand dalam video agar video yang Anda buat bisa menghasilkan uang?


Banyak yang bilang, mendapatkan uang melalui video di Youtube itu mudah.

Buat video, tingkatkan viewers dan kumpulkan uang dari jumlah viewers yang banyak.

Padahal, sistem di Youtube tidak seperti itu.

Untuk menghasilkan uang, Anda harus melewati tahap seperti memasang Ads dan lainnya.

Secara lebih lengkap tentang bagaimana menghasilkan uang melalui Youtube bisa baca di sini.

Namun, saya tidak menyarankan hal tersebut.

Jika Anda membuat video hanya berorientasi profit, apakah channel Anda bisa konsisten menghasilkan video yang berkualitas? Mungkin tidak.

brand melalui video

Melihat revenue video youtube melalui extensi VidIQ dari Youtube

Casey Neistat menghasilkan revenue sebanyak 2.ooo$ (1 video dalam satu hari) setelah memproduksi video berkualitas secara konsisten selama lebih dari 3 tahun.

Selain itu, Casey memiliki audiens yang loyal, yang selalu setia menunggu video yang baru.

Casey Neistat memiliki nilai jual dan brand yang kuat.

Menghasilkan video yang berkualitas, memiliki diferensiasi dan mengeluarkannya secara konsisten. Itulah kunci agar video yang Anda hasilkan memiliki nilai jual dan brand yang kuat kepada audiens.

Lalu, bagaimana taktik yang bisa Anda gunakan agar video yang Anda buat memiliki brand yang kuat?

  1. Cari topik yang tepat

Dalam menentukan topik, Anda juga harus melihat topik yang disenangi oleh audiens.

Misalnya saja, target audiens Anda adalah anak-anak SMA yang ingin masuk suatu institusi.

Video Anda bisa berisi tentang bagaimana tips dan trik masuk ke institusi tersebut, atau review tentang fasilitas yang disediakan institusi tersebut.

Salah satu contoh video tentang cara masuk ke sebuah institusi.

Pilihlah topik yang disenangi oleh audiens dan tidak mengenal waktu.

Dengan topik yang memiliki target audiens anak SMA yang ingin masuk ke sebuah institusi, video yang Anda buat akan disenangi, bahkan mungkin saja ikut dibagikan. (Menurut riset Forbes, 60% millennials sangat loyal terhadap suatu brand.) 

Selain itu, video yang Anda buat juga tidak mengenal waktu karena setiap tahun banyak anak SMA yang ingin masuk ke institusi tersebut. Video Anda memiliki nilai jual yang timeless.

Targetlah audiens se-spesifik mungkin agar video Anda memiliki diferensiasi terhadap video yang dibuat orang lain.

Bayangkan jika channel Gadgetin yang biasanya me-review handphone ikut me-review barang seperti sepatu atau alat-alat fashion.

Apakah brand dari Gadgetin akan menjadi kabur? Mungkin iya.

Gadgetin akan memiliki dua hal yang ditawarkan, sehingga brand yang berusaha dijual tidak mudah diingat oleh audiens.

Namun, bagaimana jika Anda kesulitan memahami apa yang audiens inginkan?

Anda bisa melakukan riset terlebih dahulu.

Riset ini selain bisa Anda gunakan untuk menentukan topik di awal, bisa juga Anda gunakan untuk mengerti keyword yang sesuai dengan yang audiens anda cari di Youtube.

Anda bisa menggunakan Google Keyword Planner untuk mengerti keyword yang audiens cari.

brand dalam video

Google Keyword Planner bisa digunakan untuk riset keyword

Jika ingin memahami lebih dalam tentang Google Keyword Planner Anda bisa berkunjung ke sini.

Namun jika menggunakan Google Keyword Planner terlalu sulit, Anda bisa menggunakan media sosial Anda sebagai sarana untuk melakukan riset.

Misalnya saja yang dilakukan oleh Goenrock untuk mengetahui video yang diinginkan oleh audiens melalui polling Twitter.

Namun riset menggunakan media sosial membutuhkan costumer yang loyal sehingga tidak bisa Anda lakukan saat pertama kali Anda ingin membuat video.

Sehingga, yang bisa Anda lakukan saat pertama kali membuat video adalah meriset menggunakan Google Keyword Planner atau riset secara manual (mencari video satu-satu dan membandingkan engagement antar video)

Lagi-lagi, saya mengingatkan Anda untuk membuat video sesuai dengan apa yang Anda senangi, sehingga tidak membebani Anda ketika dituntut untuk membuat video secara konsisten.

  1. Bagikan video Anda

Jika Anda sudah membuat video, jangan biarkan video Anda mengendap menunggu audiens datang menonton.

Buatlah mereka datang untuk menonton.

Bagaimana caranya?

Anda bisa menggunakan media sosial yang Anda miliki untuk membagikan video yang telah Anda buat.

Misalnya saja Anda bisa membagikan trailer video selama 1 menit yang bisa disebar di media sosial.

Tujuannya agar membuat penasaran audiens, yang kemudian bisa Anda konversikan untuk berkunjung ke video Anda.

brand dalam video

Goenrock membagikan trailer video ke media sosial

*Pro tips*

Anda bisa membagikan video Anda secara berkali-kali dalam sebulan. Anda bisa menjadwalkan pembagian sebanyak 3 kali dalam sebulan.

Selain itu, Anda bisa membagikan video sesuai dengan momen.

Misalnya saja Anda membuat video tentang hari ibu. Video yang timeless tersebut bisa Anda bagikan setiap tahunnya selama ada hari ibu.

  1. Konsistensi dalam branding

Poin ini adalah poin terpenting untuk membentuk brand dalam video Anda.

Selain topik yang sudah dibahas di atas, brand Anda mencakup hal-hal yang visual seperti warna, font, gaya berpakaian, bahkan tampilan preview video Anda sekalipun.

Brand tersebut berguna untuk meningkatkan brand recognition video Anda. Apa itu Brand recognition

Misalnya saja Anda telah memiliki brand yang kuat; identik dengan warna minimalis, disertai font yang memiliki copy yang click-bait. Apa itu Click-bait?

Saya juga pernah membuat artikel tentang strategi menggunakan click-bait.

Jika video Anda masuk dalam trending, ataupun ke explore dalam Instagram, ketika audiens Anda melihat sekilas, dia langsung mengerti jika itu video milik Anda.

Disitulah poin jika video Anda telah memiliki brand recognition yang kuat.

brand dalam video

Video Dedy Corbuzier memiliki brand recall yang kuat.

Apa kesamaan dari semua video yang telah dibuat oleh Dedy Corbuzier?

Ya, mulai dari kesamaan warna yang minimalis, font, hingga gaya dari video yang membuat brand Dedy Corbuzier cukup kuat.

Mungkin juga banyak orang di luar sana yang hanya dengan sekali lihat thumbnail-nya, mereka langsung mengerti jika itu video dibuat oleh Dedy Corbuzier.

brand dalam video

Agung Hapsah juga memiliki brand recall kuat

Contoh lain misalnya Agung Hapsah.

Apa kesamaan dari hampir setiap videonya? Penggunaan font yang minimalis dan tone video yang kebiruan.

Jadi, untuk menemukan brand yang ingin Anda jual, Anda harus menemukan kombinasi antara warna, font, hingga ke style video yang Anda miliki dan menggunakannya secara konsisten.

Bingung menentukan warna untuk brand Anda? Saya pernah menulis artikel tentang psikologi warna dalam brand di sini.

*Pro tips*

Saya menyarankan Anda untuk menggunakan custom thumbnail dalam video Anda. Bagaimana strategi menggunakan costum thumbnail yang tepat? Baca di sini.

  1. Konversikan audiens Anda

Ada dua macam konversi yang bisa Anda gunakan, konversi melalui call-to-action dan engagement.

Pertama, konversi melalui call-to-action. Apa itu call-to-action

brand dalam video

Phillip Defranco menggunakan call-to-action

Apakah Anda sering melihat ending video yang selalu membagikan media sosial ataupun link menuju video yang lain?

brand dalam video

Sunny selalu memberikan media sosialnya dalam video

Ataupun memberi tahu media sosialnya selama video?

Itulah yang disebut sebagai konversi melalui call-to-action.

Audiens yang baru saja menonton video berusaha dikonversi ke-action lainnya, yaitu mengikuti media sosial, berkunjung ke lokasi atau web Anda, ataupun melihat video Anda yang lainnya.

*Pro tips*

Bahkan, beberapa youtuber menjadikan media sosial untuk membangun hubungan dengan audiens dan menarik customer yang loyal, seperti menggunakan grup Facebook untuk mengumpulkan orang-orang yang memiliki minat yang sama.

Selain itu, grup tersebut bisa digunakan agar customer yang loyal tersebut setia menonton. Tahap itulah yang dinamakan tahap brand recallSaat dimana orang selalu kembali secara berulang ke suatu brand.

brand dalam video

Sunny Lenarduzzi menggunakan media sosial untuk membangun komunitas

Kedua, konversikan audiens melalui engagement.

Engagement yang saya maksud adalah ajak audiens Anda untuk like, comment, subscribe hingga share ke orang lain.

Bahkan, Anda juga bisa berinteraksi dengan audiens dengan meninggalkan suatu pertanyaan yang bisa membuat audiens menjawab pertanyaan tersebut di kolom komentar.

Dengan meningkatnya engagement dari video Anda, video yang Anda buat akan lebih mudah muncul di kolom pencari. Karena begitulah algoritma Youtube bekerja.

  1. Kolaborasi dan Perluas Lingkaran Anda

Setelah menghasilkan video secara konsisten, Anda bisa mulai berkolaborasi dengan teman-teman lain yang memiliki bidang yang sama.

Misalnya saja Goenrock yang berkolaborasi dengan Barry Kusuma hingga Amrazing.

Selain bisa menambah konten, hal tersebut bisa meluaskan jangkauan audiens Anda ke audiens partner Anda.

Selain berkolaborasi Anda juga bisa mengonversikan pujian yang ditujukan ke video Anda.

brand dalam video

Pujian dari influencer bisa dijadikan sebagai testimoni.

Misalnya saja dengan me-retweet pujian yang ditujukan kepada Anda, atau mengumpulkan pujian tersebut dan jadikan sebagai testimoni ataupun lecutan semangat untuk terus berkarya.


Banyak yang bilang bahwa konten adalah raja. Padahal dalam kenyataannya kontenlah yang membuat Anda menjadi raja.

Konten yang berkualitas dan dihasilkan secara konsisten akan membawa video Anda memiliki brand yang kuat dan ditunggu-tunggu oleh audiens.

Selamat mencoba.

 

Article by fauziananta1

Masih dalam proses belajar digital marketing dan strategi branding.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *